"Bantu dia meminum ini perlahan," kata Lynx sambil menyerahkan mangkuk obat ke Rira.

Rira mengambil mangkuk itu dengan tangan gemetar. Ia membantu ayahnya duduk, lalu memberinya cairan itu seteguk demi seteguk. Pria tua itu meringis pada awalnya, tetapi setelah beberapa saat, ia tampak lebih rileks.

Ketika obat itu habis, pria tua itu menatap Lynx dengan mata berkaca-kaca. Dengan susah payah, ia mencoba bergerak, lalu berlutut di hadapan Lynx.

"Terima kasih... kau telah menyelamatkan hidupku," katanya dengan suara parau.

Rira tidak bisa menahan air matanya. Ia berlutut di samping ayahnya, menundukkan kepala. "Kami tidak tahu bagaimana cara membalasmu... Maafkan aku atas semua kesalahan yang telah kulakukan."

"Bangunlah, kalian suku Raksa yang pemberani, tidak sepantasnya berlutut seperti ini," kata Lynx sambil mengangkat badan Ayah Rira yang bernama Raka.

Narendra, yang berdiri di pintu, menatap Lynx dengan kagum. "Kau tidak hanya kuat, Lynx. Kau juga memiliki hati yang besar. Aku tidak tahu bagaimana caramu melakukan ini, tapi aku tahu satu hal—kau membuat perbedaan di mana pun kau pergi."

Kanha, yang sejak tadi menonton dengan mulut menganga, akhirnya bersuara. "Kak Lynx, kau sangat hebat seperti pahlawan dari cerita dongeng!"

Lynx tersenyum kecil, mengusap kepala Kanha. "Aku hanya melakukan apa yang harus dilakukan."

Rira dan keluarganya menangis bahagia, memeluk ayah mereka yang perlahan mulai terlihat lebih sehat. Suasana di dalam rumah itu dipenuhi rasa syukur yang mendalam.

Saat malam semakin larut, mereka semua duduk di depan api unggun di luar rumah. Lynx memandang Rira dengan mata yang penuh pengertian.

"Kau tidak perlu mencuri lagi," katanya. "Aku akan memastikan keluargamu aman."

Rira mengangguk dengan mata yang masih basah. "Aku percaya padamu. Terima kasih telah memberiku kesempatan kedua."

Narendra menatap Lynx dengan senyum penuh arti. "Kau tahu, Lynx, aku tidak pernah melihat seseorang seperti dirimu. Selain kuat, kamu sangat baik dan suka menolong orang yang tidak kamu kenal. Mungkin, ini awal dari sesuatu yang besar."

Lynx mengangguk, menatap api unggun dengan tatapan penuh tekad. "Kita sudah memulainya. Sekarang, kita harus melanjutkan."

Malam yang sunyi di desa Raksa berubah tegang ketika suara langkah berat terdengar mendekat. Beberapa pria berotot dengan senjata sederhana muncul di pinggiran desa, dipimpin oleh seorang pria besar dengan wajah penuh luka bekas pertarungan. Pria itu adalah Banu, sosok yang ditakuti dan dibenci banyak orang, termasuk Rira.

Lynx berdiri diam di dekat api unggun, memandang kedatangan mereka dengan ekspresi tenang. Narendra segera mengangkat tombaknya, siap berjaga.

"Rira!" suara berat Banu menggema, membuat penduduk desa menoleh.

Rira berdiri dengan rahang mengeras. "Apa yang kau lakukan di sini?"

Banu melangkah mendekat, matanya menyapu Lynx, Narendra, dan Kanha sebelum berhenti di Rira. "Aku mendengar ada orang asing di desamu," katanya, nada suaranya penuh sindiran. "Kau tahu, aku tidak suka orang lain mendekatimu. Kau milikku, Rira. Tidak ada yang boleh melanggar itu."

Rira mengepalkan tangannya. "Aku bukan milikmu, Banu. Kau hanya berkhayal!"

Banu tertawa keras, tetapi tawanya berubah menjadi geraman rendah. "Aku mengingatkanmu, Rira. Nyawa Ayahmu tergantung bagaimana sikapmu. Hanya aku yang punya penawar racun ayahmu. Jadi jangan bermain-main denganku."

Lynx mengerutkan dahi, melirik Rira dengan rasa ingin tahu. Rira tampak menggigit bibirnya, mencoba menahan kemarahan.

"Sebenarnya, apa yang kau inginkan?" Narendra akhirnya bersuara, suaranya tajam.

Banu menoleh ke arahnya dengan seringai dingin. "Aku tidak punya urusan dengan kalian, orang asing. Tapi aku akan menjadi kepala suku Raksa berikutnya. Pertandingan untuk menentukan pemimpin akan segera dimulai, dan aku akan menang. Ketika aku menjadi kepala suku, Rira akan menjadi milikku, suka atau tidak."

"Omong kosong," gumam Rira dengan nada penuh kebencian.

Banu mendekat lebih jauh, matanya memperhatikan Lynx yang berdiri tenang di sisi Narendra. "Dan kau," katanya sambil menunjuk Lynx dengan jari besar. "Kau sebaiknya menjauh dari Rira. Kalau tidak, kau akan menghadapi akibatnya."

Narendra mulai maju, tapi Lynx menahan lengannya. "Biarkan dia bicara," bisik Lynx.

Banu menyeringai, merasa di atas angin. Tetapi senyumnya memudar saat pintu sebuah rumah kecil terbuka perlahan. Dari dalam, seorang pria tua berjalan keluar, langkahnya lemah tapi pasti.

Ayah Rira.

Banu membeku, matanya melebar. "Tidak mungkin..." gumamnya.

Raka berdiri dengan tegak di depan Rira, meskipun tubuhnya masih terlihat lemah. Wajahnya penuh dengan ketenangan, tapi matanya memancarkan kekuatan.

"Ayahku sudah sembuh," kata Rira dengan suara penuh kemenangan. "Kau tidak punya kuasa lagi atas kami, Banu."

Wajah Banu berubah merah padam, campuran antara kaget dan marah. "Bagaimana ini bisa terjadi?"

Kanha, yang duduk di sebelah Narendra, menyenggol kakaknya sambil tersenyum jahil. "Dia terlihat seperti badak yang kehilangan tanduknya," bisik Kanha, tapi suaranya cukup keras untuk didengar Banu.

Banu berbalik ke arah Kanha dengan wajah merah padam. "Apa kau bilang, bocah?"

Kanha berdiri dengan percaya diri meski tubuhnya jauh lebih kecil. "Kak Banu, kau seharusnya belajar mendengarkan. Aku bilang kau seperti badak kehilangan tanduknya. Terlihat besar, tapi tidak berguna."

Beberapa penduduk yang mendengar itu tertawa pelan, meski cepat-cepat berhenti saat Banu menatap mereka dengan tajam.

"Bocah ini mencari masalah!" teriak Banu marah, mengayunkan tangannya untuk menakut-nakuti Kanha.

Namun Kanha melangkah mundur dengan santai. "Hei, jangan marah. Aku hanya bilang yang sebenarnya. Kalau kau tidak setuju, mungkin kau harus melawan Kak Narendra saja. Dia lebih cocok untuk melatih badak sepertimu."

Banu, yang marah besar, menatap Narendra dengan tajam. "Kau! Kau membiarkan bocah ini bicara seenaknya? Apa kau pikir kau bisa mengalahkanku?"

Narendra, yang sudah berdiri dengan tenang, mengangkat tombaknya. "Kalau kau mau mencoba, silakan."

"Baiklah!" Banu menggeram, melangkah maju sambil menarik kapak besarnya. "Aku akan membuatmu menyesal telah ikut campur!"

Pertarungan dimulai dengan Banu yang menyerang terlebih dahulu. Ia mengayunkan kapaknya dengan kekuatan luar biasa, tapi Narendra, yang sudah dilatih Lynx, mampu menghindari serangan itu dengan cepat.

"Cepat juga kau, ya?" ejek Banu, meski jelas ia mulai kesal.

Narendra tidak menjawab, hanya menyerang balik dengan tombaknya. Ia menggunakan teknik-teknik yang diajarkan Lynx, memanfaatkan kecepatannya untuk menyerang titik lemah Banu.

Di pinggir arena, Kanha terus berteriak menyemangati kakaknya. "Ayo, Kak Narendra! Tunjukkan badak itu bagaimana cara bertarung yang benar!"

Banu semakin marah mendengar ejekan itu. Ia melancarkan serangan-serangan yang semakin kuat, tapi Narendra terus bertahan. Setelah beberapa saat, Banu mulai terlihat kelelahan.

Narendra melihat kesempatan itu. Dengan gerakan cepat, ia menusukkan tombaknya ke bahu Banu, membuat pria besar itu jatuh berlutut.

"Kau kalah," kata Narendra dengan suara tenang, menahan tombaknya di leher Banu.

Banu menatap Narendra dengan marah. "Ini belum selesai!" teriaknya. Ia memberi isyarat kepada anak buahnya, yang segera maju dengan senjata terhunus.

Namun, sebelum mereka bisa mendekati Narendra, Lynx melangkah maju. Ia berdiri di tengah jalan mereka, wajahnya tenang.

"Aku pikir cukup untuk malam ini," kata Lynx.

Anak buah Banu mencoba menyerang Lynx, tapi mereka tidak pernah berhasil menyentuhnya. Dengan kecepatan luar biasa, Lynx menghindari setiap serangan, membuat para penyerangnya terlihat seperti amatir.

Sesekali, Lynx menggunakan tangan kosong untuk melucuti senjata mereka, membuat mereka terjatuh tanpa melukai mereka terlalu parah. Dalam waktu singkat, semua anak buah Banu terkapar atau melarikan diri.

Banu menyeringai lagi, meskipun jelas dia terguncang. "Kita akan lihat siapa yang tersisa berdiri. Sampai saat itu, nikmati saja kemenangan kecil ini." Ia memberi isyarat kepada anak buahnya, dan mereka mundur dengan wajah muram.

Namun sebelum pergi, Banu berbalik sekali lagi ke arah Rira. "Jangan terlalu percaya diri, Rira. Aku akan memastikan kau menjadi milikku setelah aku menjadi kepala suku. Tidak ada yang bisa menghalangiku."

Ketika Banu dan anak buahnya akhirnya pergi, suasana di desa perlahan kembali tenang.

Rira mendekati Lynx, wajahnya masih terlihat kesal. "Aku tidak tahu kenapa ada manusia tidak tahu malu sepertinya. Mereka selalu memaksakan kehendak mereka kepada orang lain. Tapi terima kasih Lynx, kau sudah menyelamatkan ayahku dan memberiku harapan."

Lynx mengangguk kecil. "Ayahmu kuat. Dia hanya butuh dorongan kecil untuk melawan racun itu. Tapi ini baru permulaan."

Narendra mendekat, meletakkan tangan di bahu Lynx. "Pertandingan itu… apapun maksudnya, aku yakin orang seperti Banu tidak boleh menang. Kalau dia menjadi kepala suku, suku Raksa akan jatuh lebih dalam ke dalam kekacauan."

Lynx menatap Narendra dengan serius. "Kamu benar, pemimpin seperti dia hanya akan merusak suku Raksa lebih parah dan menggagalkan rencana kita untuk menggabungkan semua suku."

Kanha, yang berdiri di belakang mereka, melompat kegirangan. "Ayo kita beri pelajaran lagi mereka. Kali ini aku akan menunjukkan kekuatanku kepada mereka semua!"

Narendra menghela napas, meskipun sudut bibirnya melengkung menjadi senyuman kecil. "Kalau kau tidak membuat masalah, Kanha, itu sudah cukup membantu."

Malam itu, suasana desa dipenuhi dengan percakapan tentang pertandingan yang akan datang. Lynx tahu, pertandingan ini bukan hanya soal kekuasaan. Ini adalah langkah pertama untuk mengembalikan kehormatan suku Raksa yang hancur.

Setelah suasana kembali tenang, Lynx, Narendra, dan Kanha duduk bersama keluarga Rira di sebuah ruangan kecil yang hangat. Ayah Rira, meski masih tampak lemah, sudah bisa duduk dan ikut dalam percakapan mereka. Rira menatap Lynx dengan ragu-ragu sebelum akhirnya mulai berbicara.

"Pertandingan itu akan menentukan kepala suku berikutnya," katanya, memecah keheningan. "Setelah kepala suku kami terbunuh beberapa bulan lalu oleh Monrest, suku Raksa kehilangan arah. Kami butuh pemimpin baru, seseorang yang bisa menyatukan kami."

Narendra mengangguk. "Tapi apa semua suku Raksa akan berkumpul? Aku dengar banyak dari mereka yang sekarang hidup terpisah, bahkan saling bermusuhan."

Rira menghela napas panjang. "Itulah masalahnya. Tidak semua kelompok setuju. Beberapa dari mereka, seperti Banu dan kakaknya, lebih suka mengambil kekuasaan daripada benar-benar menyatukan kita. Pertandingan ini... mereka hanya menggunakannya sebagai alat untuk menguatkan posisi mereka."

"Kakaknya?" tanya Lynx, nada suaranya penuh perhatian.

Rira mengangguk pelan. "Namanya Arkha. Dia jauh lebih kuat daripada Banu, jauh lebih pintar juga. Tapi... dalam keluarga mereka, posisi pemimpin diberikan kepada Banu. Arkha marah karena itu, tapi dia tetap mendukung Banu. Aku yakin dia akan bertarung di pertandingan, mungkin untuk memastikan kemenangan Banu."


